Posted by: matapensel | May 28, 2008

Isteri seorang Daie

Dalam satu acara bersama Faudhil Adzim, penulis buku popular Kupinang Engkau Dengan Hamdalah beberapa ketika dahulu, beliau berpesan kepada kami khususnya para akhwat,,,

“Janganlah kamu tahan suamimu dirumah, kerana nanti pastinya dia akan meronta-ronta ingin keluar. Tapi sebaliknya relakan sahaja suamimu keluar, kerana pasti dia akan meronta-ronta ingin pulang ke pangkuanmu”

Buat isteri para daie yang saban hari menanti kepulangan suaminya di rumah dengan sabar, kutujukan kisah Lathifah As Suri untuk kamu semua.

Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia perlukan seorang muslimah yang kuat, yang tidak akan gentar dengan banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah. Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main-main, bukan hanya sekedar dakwah seperti ramai orang pada waktu itu. Bukan hanya sekedar membangun masjid atau surau. Imam syahid tengah dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.

Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyadari bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang dipikul oleh Imam Syahid. Ada dimensi waktu dan kuasa modal disitu. Maka pertemuan diyakini menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan istrinya.

Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al Banna memerlukan persiapan yang bukan main-main. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyadari bahwa ia harus siap jika ada waktu dia harus menjalani hidup sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.

Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta risiko yang bukan main-main. Penjara bahkan nyawa akan menjadi akibatnya, dan akan tiba menyapa pada bila-bila masa.

Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.
Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari betul tuntutan hidup menjadi istri seorang daie.

Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya. Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati-hati, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari kekasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.

Lathifah tidak pernah mengeluh, walau sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah menuntut lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya tergugah adalah, ketika salah satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya. Ia bertanya kepada suaminya,”Bagaimana jika ia meninggal?”. Imam Syahid hanya menarik napas panjang, ia kemudian berujar “Kakeknya lebih tau bagaimana mengurusnya.”

Sejak kecil, Lathifah menanamkan wawasan keislaman kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan jahiliyyah yang merosakkan. Ketika Imam Syahid bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen. Lathifah sangat menyadari peranan dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.

Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tidak ada gelisah, kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh arwah suaminya. Ia tetap tinggal didalam rumah. Lathifah tidak meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan.

Karenanya, tak heran diantara anak-anaknya tidak ada ikhtilat (percampuran) antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan jenis. Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah. Sendirian, ia besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keislamannya. Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. Lathifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita seputar dunia Islam. Lathifah menyadari memandang kecil masalah ini akan memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan menyadari betapa penting perannanya terhadap keluarga dan masyarakat.

Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih ijazah dalam pendidikan formal. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai peguam di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlemen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai pensyarah di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi doktor. Dan Halah sebagai pensyarah perubatan kanak-kanak di Universitas Azhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai PhD dalam ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami. Selain juga untuk anak-anaknya

Moga Allah memberikan kekuatan kepada semua isteri para duat yang tidak pernah bosan membantu di balik tabir. Moga Allah membalas masa-masa kita yang hilang dengan ganjaran yang lebih baik di syurga…


Responses

  1. salam. sangat menarik and nak minta izin copy n pastekan dalam blog saya. TQ


Leave a response

Your response:

Categories